Ternyata Listrik Sudah Masuk di Guaeria Maluku Utara

Merdeka.com – Sekumpulan bocah berdiri di bibir dermaga. Beberapa berlari mendekat. Ada juga orang dewasa. Pria ataupun wanita. Mereka menanti kedatangan sebuah kapal. Berbungkus rasa penasaran. Siapa hari itu datang kampungnya. Bunyi kapal kian dekat. Mereka berdiri di tepi dermaga. Sekalian menolong menyandarkan kapal.

BERITA TERKAIT
Jual Genset Terpercaya

Ukuran kapal hari itu tak besar. Umumnya mereka menyebut Gete-Gete. Menerapkan satu mesin. Cuma muat menampung 15 penumpang. Kami ada di dalamnya. Bersama dengan rombongan. Kapal malah bersandar di tepi dermaga. Para warga tadi menyambut kami. Ramah. Itu kesan pertama kami rasakan.

Berkumpulnya mereka bak mendapatkan penyambutan spesial. Turun dari kapal, kami dan rombongan segera berjabat tangan. Satu per satu dengan mereka. Saling berkenalan. Tidak lupa mendapatkan ucapan selamat datang.

Guaeria yaitu sebuah desa. Semula Kawasan ini bernama bernama Guaemadaha. Mempunyai sekitar 500 jiwa. Untuk menuju ke sana, kami bertolak dari Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Memerlukan waktu 15 menit. Menerapkan kapal. Ini satu-satunya alat transportasi untuk menuju desa hal yang demikian.

Perjalanan menuju Guaeria tidak pernah membikin bosan. Jaraknya 12 kilometer dari Jailolo. Selama perjalanan kami mendapatkan suguhan panorama menarik. Gugusan pulau berjajar hijau nan asri membikin kami jatuh cinta dengan keindahannya. Ombak laut juga tidak besar. Menjadi perpaduan perjalanan tidak dapat dilupakan.

\”Selamat datang di Guaeria,\” sapa seorang warga bernama Yehezkiel terhadap kami.

Kami tiba sekitar jam 1 siang. Dari pinggir dermaga, hamparan lautan maha luas memrentang. Seperti cantik. Terik sang surya siang itu malah seperti itu menyengat. Warga di sini senantiasa punya gurauan khas seputar keadaan ini. Mereka menyebut Guaeria punya tiga sang surya.

Setiap jalan utama desa cuma mempunyai ukuran lebih kurang satu meter. Keadaannya telah pantas. Sepanjang jalan telah di cor. Melainkan, jalan menuju bukit Guaeria masih tanah dan benar-benar curam. Sekiranya hujan turun, jalan setapak benar-benar licin.

Desa Guaeria hanyalah sebuah kampung. Sebagian rumah berdiri di pesisir pantai. Situasi mereka telah lebih senang hampir empat tahun baru-baru ini ini. Listrik telah hadir. Mengalir. Menerangi setiap rumah warga.

Sebelum hadirnya listrik, malam gelap gulita telah menjadi kawan. Tidak perlu dipertanyakan lagi soal kesabarannya. Mereka mesti menunggu 80 tahun supaya kampungnya jelas di tengah malam. Dapat dipandang dari kejauhan. Banyak orang sekarang tahu ada desa di sana.

Puluhan tahun Desa Guaeria tidak teraliri listrik. Tepatnya semenjak tahun 1930. Jangkauan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak pernah hingga. Malahan menjadi salah satu desa ketinggalan di Halmahera Barat. Lampu minyak malah menjadi andalan saat malam.

Baru tahun 2014 silam Pemerintah Tempat Halmahera Barat memberikan bantuan satu set mesin genset. Desa menjadi jelas. Sedangkan alhasil masih minim. Mereka konsisten berterima kasih. Memanfaatkan ketidakhadiran bantuan dari pemerintah.

Dua tahun kemudian bantuan kembali datang. Berasal dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Masih sama. Satu set genset. Sekarang dua buah mesin menolong penerang dimiliki warga Desa Guaeria. Melainkan mereka mesti konsisten bersabar. Karena peraturan khusus supaya dapat dinikmati merata.

Aliran listrik cuma kapabel dipakai untuk menyalakan lampu bohlam. Listrik malah baru dapat dirasakan selama 12 jam. Diawali semenjak 6 petang sampai 6 pagi waktu setempat.

Dikala kami tiba di Guaeria, dua mesin genset sedang tidak berfungsi. Tengah mengalami situasi sulit. Karena telah terhitung tua dan sering kali rusak. “Sebagian hari ini mesin gensetnya mati,” cerita Yehezkiel dikala menonjolkan daerah menaruh dua mesin genset hal yang demikian.

Daerah itu berupa bangunan berbentuk kotak dengan luas 3 x 2 meter. Di atas bangunan tidak berpintu itu terdapat dua buah tabung dari besi. Menonjol kumal dan bau bensin diesel dan oli, bahan bakar utama pemrakarsa mesin.

Dari Yehezkiel kami mengenal, apabila ada warga menyalakan kulkas karenanya dalam sekejap setiap lampu rumah di dua RW ini akan padam. Kecuali untuk menyalakan bohlam, listrik dari dua genset itu dapat dipakai untuk mengisi baterai telpon pintar. Asala tiga lampu di rumah mereka mesti dipadamkan dahulu.

Kecuali dua genset murah bantuan dari pemerintah, ada pula sebagian warga mempunyai genset pribadi. Jumlahnya tidak banyak. Cuma lima rumah warga yang mempunyai genset. Umumnya mereka cuma mengaplikasikan listrik untuk lampu, mengisi baterai telpon pintar dan layar kaca. Selebihnya, tidak ada alat elektronik dapat dipakai

This entry was posted in Teknologi. Bookmark the permalink.